Selasa, 29 Maret 2011

Kebahagiaan menurut ideal Platon


Judul               : Arete: Hidup Sukses Menurut Platon
Penulis             : A. Setyo Wibowo
Penerbit           : Kanisius
Tebal               : 184 halaman


Menurut mitologi Yunani, yang diceritakan oleh Hesiodos, konon, karena rasa kasihannya kepada manusia, Promotheus, salah satu titan, memberikan api pengetahuan kepada manusia yang dicurinya di puncak gunung Olimpus dari Dewa Zeus. Hal ini berakibat buruk bagi kedua makhluk tersebut. Promotheus dihukum oleh Dewa untuk hidup menderita di atas bukit Kaukasus dimakani hatinya berulang kali oleh Elang Kaukasus, dan manusia  “ditipu” oleh Dewa Zeus dengan kotak yang dibawa oleh Pandora, perempuan pertama.
Ketika kotak itu dibuka Pandora, penyakit, dan penderitaan keluar dari dalamnya, dan hanya tersisa satu yang baik bagi manusia: harapan. Melalui secuil harapan itu, manusia mencoba mengingkari kutukan Dewa. Upaya mengingkari kutukan itu kita sebut sebagai kebahagiaan. Karena sejatinya hidup di dunia ini untuk mencari kebahagiaan. (hlm 11)
Judul buku ini adalah “Arete: Hidup Sukses Menurut Platon”. Menurut saya, A. Setyo. Wibowo, menggunakan terminologi “sukses”, karena istilah tersebut jamak dan dekat bagi masyarakat awam Indonesia dan dianggap sebagai hidup bahagia. Namun kebahagiaan yang bagaimanakah yang dicari? Kebahagiaan ini beragam bentuk, bisa materi, atau kebahagiaan spiritual, misal melalui hidup askesis.
Materi kadang membawa kita pada kebahagiaan semu, begitupun hidup asketis. Seorang hartawan yang hidup berlimpah materi terlihat bahagia, namun materinya yang berlimpah itu justru membuatnya selalu khawatir. Ia takut kehilangan uang, dan perkara lain. Atau bagi orang yang hidup asketis. Mereka mencoba hidup asketis dengan melepas keduniawian, namun apakah hal yang duniawi selamanya buruk, bagaimana dengan keluarga dan teman-teman mereka yang ditinggalkan?
Buku keluaran Kanisius tahun 2010 ini mencoba menjelaskan secara singkat kebahagiaan menurut Platon, seorang Filsuf Yunani. Buku ini menjelaskan kebahagiaan, atau dalam pengertian Platon, memiliki istilah “keutamaan” atau arete.
 Kebahagiaan yang diidamkan Platon adalah kebahagiaan yang seimbang, artinya tidak menuntut kesenangan yang besar-besar, atau penderitaan untuk mencapai hidup abadi! Kebahagiaan itu terletak ketika manusia mampu mengharmonisasi jiwanya melalui rasio. Jadi dia tetap bisa menikmati makanan, seks, keindahan, selagi itu berada dalam otoritas dan kepentingan rasio itu sendiri, bukan seks atau yang lain. Karena keutamaan atau kebahagiaan menurut Platon berarti adil, tidak berlebih-lebihan dalam kesedihan atau kebahagiaan.
Menurut Platon, kebahagiaan tidak terletak pada tubuh, dalam arti sakit-sehat, melainkan pada jiwa yang diwakili oleh 3 (tiga) hal. Itu terkait pandangan Platon tentang manusia, yaitu prinsip utama manusia adalah jiwa.
 Ketiga hal itu adalah ephitumia (hasrat seks, makan, minum) letaknya di bagian perut ke bawah, thumos (agresivitas, semangat, rasa) letaknya di bagian thorax, di antara leher dan diafragma dada,  logistikon (fungsi rasional jiwa) letaknya di bagian dada atas. Logistikon itulah yang bekerja sebagai penyeimbang antara, epithumia, dan thumos.
Harmonisasi antara ephitumia, thumos, logistikon, itu terjadi, apabila manusia mau, dan berkeinginan sendiri mengoptimalisasi ketiga fungsi jiwa tersebut. Dorongan, atau yang diistilahkan Setyo Wibowo sebagai hasrat, itu bernama Eros. Jadi Eros-lah yang akan mengoptimalisasi ketiga fungsi jiwa itu untuk mencapai kebahagiaan, keutamaan, atau Arete.
Platon membagi hasrat, atau dorongan ini menjadi 2 (dua), hasrat irasional yang mencakup thumos dan ephitumia, dan hasrat rasional, yakni logistikon. Hasrat terkadang identik dengan materi, namun pengertian hasrat di sini berbeda. Menurut Platon, seperti yang dikutip A. Setyo Wibowo, (Politeia, 437c), hasrat sebagai keinginan mengikuti, menolak, atau juga antisipasi atas sesuatu (hlm 51).
Platon tidak main-main dengan konsep Arete-nya ini, karena sebenarnya kehidupan rasional, atau menurut Platon “keutamaan”, itu adalah pola hidup yang dipersiapakan untuk Filsuf-Raja—pemimpin ideal menurut Platon. Konsep Arete Platon ini bahkan memiliki semacam pendidikan khusus agar manusia mencapai “keutamaan” hidup.
            Penulis buku mencoba memberikan pemaparan singkat tentang upaya mencapai keutamaan hidup a la Platon ini. Mungkin kedengaran agak klise, tetapi pendidikanlah satu-satunya alat untuk mencapai Arete! Hal ini bagi Platon bukan perkara yang mengawang-awang, karena Platon sendiri mendirikan Academia, yang nantinya dianggap sebagai universitas pertama di dunia, untuk merealisasikan misinya itu.
            Karena keutamaan Platon diidentikan dengan rasio, berarti manusia harus mendekatkan diri pada hal-hal yang intelligible, atau pengetahuan mengenai idea, adi-inderawi. Hal ini mungkin akan lebih jelas, apabila kita merujuk pada mitos goa Platon, yakni manusia yang mencoba untuk lepas dari goa yang non-fiktif untuk melihat realitas alam semesta yang sesungguhnya. Platon berusaha memberikan tegangan dengan hal-hal yang sensible, inderawi. Sehingga keutamaan Platon ini bukan keutamaan yang membunuh seksualitas, ataupun keinginan menikmati lidah!
            Platon memberikan semacam kurikulum untuk mencapai keutamaan ini. Secara umum dalam pendidikan ini, anak-anak diberi 2 (dua) macam pendidikan yang akan membantu formasi tubuh dan jiwa mereka (hlm 164), yakni musik untuk membentuk jiwa, dan gimnastik untuk mencapai ketahanan fisik. Lalu bagaimana dengan upaya mendekati yang intelligible? Pada tahap pertama, selama sepuluh tahun anak-anak akan diberi pendidikan propedeutik, atau pengantar, lewat pelajaran ilmu-ilmu aritmatika, geometri bidang dan stereometri (geometri ruang), astronomi, serta music. Anak-anak dilatih menyadari jarak yang ada antara yang inderawi dan yang bersifat intelektual (intelligible). (hlm 164-165).
            Buku ini mungkin terlalu teoritis bagi orang awam  dalam filsafat, dan tentu bisa menjadi kajian menarik tentang Platon, bagi mereka yang menggemari filsafat. Namun kita tidak boleh naïf, karena buku ini pun bagi orang awam akan memberikan tambahan perspektif dalam hidup, sehingga turut memberikan mereka modal pengetahuan baru dalam menghadapi tantangan hidup praktis!
            Banyak sekali keunggulan dari buku ini yang tidak mungkin dipaparkan satu demi satu. Keunggulan paling menonjol dalam buku ini, penulis mencoba mengakrabkan kita dengan Platon menggunakan realitas hidup keseharian, artinya hal-hal yang pernah kita geluti, atau bersentuhan dengannya, misal kasus korupsi, dan sepak bola. Sayangnya buku ini terlalu membuat kita akan berpikir bahwa filsafat itu adalah ilmu yang mengasyikkan, itulah salah satu kekurangan buku ini!






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar